Miris Puluhan Tahun Warga Tambak Rejo Tinggal Dirumah Berlantaikan Tanah

Tidak Pernah Tersentuh Bantuan Bedah Rumah

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Miris dialami Parno (42) dan Muhadi (76) warga desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Bertahun-tahun, tinggal di rumah gubuk berdindingkan papan, dan berlantaikan tanah. Sementara, bantuan pemerintah yang melimpah untuk warga tidak mampu, terlebih bagi masyarakat yang belum memiliki tempat tinggal layak huni, belimpah ruah khususnya di Kabupaten Bengkulu Utara. Ironisnya, hal tersebut tidak pernah didapatkan oleh kedua kepala keluarga tersebut.

Pantauan awak media di lapangan, baik rumah Parno maupun rumah Muhadi memang miris, ketika awka media memasuki istana mereka tersebut. Dimana ruang yang hanya memiliki satu ruangan tempat berkumpul keluarga dan satu kamar. Disisi lain, terdapat juga kursi panjang, tempat dimana dua keluarga ini biasa duduk bersama, yang berada di atas lantai tanah.

Ketika ditemui awak media, baik Parno maupun Muhadi, mengaku belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah. Mulai dari bedah rumah yang dicetuskan oleh Kementrian Sosial, hingga RTLH yang dicetuskan oleh kementrian PUPR. Ketika ditanya, alasan keduanya tidak mendapatkan bantuan itu, mereka sendiri tidak mengetahuinya. Karena, belum ada sama sekali sosialisasi terkait bantuan itu. Namun keduanya mengaku, mengetahui jika ada bantuan pemerintah yang mengalir ke desanya.

“Kami sendiri tidak tahu, seperti apa bantuan pemerintah ini mengalir ke desa kami, tau-tau sudah ada yang informasikan kalau tetangga kami mendapatkan program bedah rumah,” ujar Parno.

Tidak Dapat Respon Kades

Keduanya juga mengaku, sempat mempertanyakan hal tersebut kepada Kepala Desa. Namun, tidak mendapatkan respon yang cukup positif. Parno pun berharap kepada pemerintah, agar tidak salah sasaran dalam menyalurkan bantuan. Dirinya tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini, hanya saja berharap ia yang menempati kediaman dengan berdindingkan papan, dan jikalau hujan harus menampung bocoran dari atap, mendapatkan bantuan itu, agar dapat memperbaiki rumahnya.

“Saya tidak menyalahkan siapa-siapa atas hal ini, hanya berharap saya juga dimasukkan menjadi salah satu penerima,” bebernya.

Sementara Muhadi, ketika disinggung sudah berapa tahun mendiami kediaman, yang dinilai sangat tidak layak tersebut. Jarwo, yang merupakan putranya ketika ditemui awak media, mengaku sudah selama 10 tahun tinggal dirumah itu. Senada pun diakuinya, belum pernah mendapatkan bantuan apapun. Saat ini, ia selaku anak laki-laki berupaya untuk merubah kondisi rumah orang tuanya itu, dengan cara menabung dan secara bertahap belanja material, seperti pasir dan batu. Dengan harapan, rumah yang ditempati orang tuanya dapat layak dihuni.

“Kami tidak terlalu berharap pak, mau dibantu ya syukur, tidak juga tidak apa-apa. Jika kami harus mengemis, agar di masukkan menjadi salah satu penerima bantuan pemerintah, rasanya nggaklah pak. Tapi, jika diberi akan kami manfaatkan sebaik mungkin, untuk memperbaiki kediaman orang tua saya ini,” imbuhnya.

Menanggapi hal ini, patut menjadi pertanyaan serius, seperti apa penyaluran bantuan pemerintah yang berlimpah untuk masyarakat, yang dinilai tidak mampu tersebut. Apakah sudah tepat sasaran, atau adanya indikasi ketimpangan demi kepentingan pimpinan di desa masing-masing. Mengingat, semua usulan berawal dari desa. Dimana, pihak pemerintah menerima usulan awal, yang selanjutnya dilakukan survei. Dalam hal ini, Kepala Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara Ali Shodikin, ketika dikonfirmasi membantah, jika penyaluran bantuan yang diturunkan dari pemerintah tersebut, timpang sebelah alias tidak tepat sasaran.

“Tidak benar itu pak, bantuan pemerintah ini memang usulan dari desa, namun yang menentukan dapat atau tidak dapat itu bukan kita, tapi pihak pemerintah yang turun ke lokasi melakukan survei,” akunya.

Ia pun menjelaskan, untuk bantuan pemerintah ke desanya tersebut, pihaknya hanya bersifat pengusul awal, dan semua yang dinilai layak sudah menjadi kewenangan pihak Pemerintah. Sejauh ini, semua masyarakatnya yang layak menerima, sudah masuk usulan.

“Semua usulan kami masukkan, tidak ada terkecuali,” bebernya.

Kades : Penerima RTLH, Yang Mampu Ada Dana Pribadi

Disinggung, seperti apa bantuan pemerintah didesa, yang ia pimpin tersebut justru tidak tepat sasaran. Dimana warganya, yang mendapatkan fasilitas untuk masyarakat tidak mampu itu, diterima oleh masyarakat yang dinilai mampu. Dimana contohnya, program bedah rumah RTLH, yang hasil temuan awak media mendapati ada warga yang memiliki kendaraan truck Canter dengan kondisi rumah yang layak, justru mendapatkannya.

Selain itu, ada juga warga dengan kondisi rumah layak tanpa teras, justru disinyalir menerima program bedah rumah dan uangnya digunakan untuk membuat teras rumah dan dapur. Menyikapi hal ini, Kades pun berkelit. Bahwa itu, memang hasil dari sosialisasi. Yang mana, bantuan pemerintah untuk bedah rumah itu diperuntukkan bagi masyarakat, yang mampu memberdayakan dengan dana sendiri atas bantuan tersebut.

“Ia memang seperti itu sosialisasi yang kami terima, penerima wajib mereka yang mampun menambah dengan dana pribadinya, guna menyelesaikan bantuan program rumah tersebut. Dengan analogi, bantuan yang berjumlah 17,5 Juta tersebut, jika membedah rumah dipastikan tidak akan cukup, sehingga saya menilai penerima yang saya berikan harus memiliki modal tambahan sendiri untuk menyambung bantuan program itu. Mengenai, masih banyaknya warga yang tinggal dirumah yang tidak layak huni, itu sudah diajukan dan besar kemungkinan tahun depan akan dapat,” tandasnya.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment