Galian C Milik Azmi Di Desa Jago Bayo, Diduga Ilegal

Masyarakat Mengharapkan Kapolda Bengkulu Bertindak

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Galian C di desa Jago Bayo Kecamatan Lais Kabupaten Bengkulu Utara, diduga ilegal. Hal ini, setelah masyarakat desa tersebut mengeluhkan dampak dari galian C, yang sudah beroperasi selama satu tahun itu, diduga belum sama sekali mengantongi izin tambang. Pasalnya, jangankan izin tambang galian C, izin dari masyarakat setempat saja, Azmi selaku pemilik galian itu disebut belum dikantongi. Hal ini ditegaskan oleh Ketua BPD Desa Jago Bayo Roni Pasla yang didampingi oleh Azwardi selaku masyarakat dan juga mantan Kades, kepada awak media kemarin.

Baca : Masyarakat Jago Bayo, Keluhkan Dampak Galian C Milik Azmi

“Kami yakin, izin dari tambang galian C milik Azmi itu ilegal. Karena, bagaimana bisa memenuhi izin, jika izin dari warga setempat saja, belum dikantonginya. Selain itu, warga tidka akan memberikan izin, karena tambang itu sangat berdampak buruk bagi masyarakat,” ujar Roni Pasla.

Roni Pasla juga menambahkan, masyarakatnya sudah menandatangani surat pernyataan. Bahwa meminta agar pertambangan galian C, yang menyedot pasir sungai dan melakukan pengangkutan untuk diperjual belikan, telah memberikan dampak yang sangat jelas buruk bagi ekosistem di sekitar wilayah sepanjang sungai desa Jago Bayo.

Dampaknya sangat jelas terlihat, mulai dari terjadinya abrasi pada lahan kebun milik masyarakat juga berdampak, debu yang dihasilkan oleh angkutan galian tersebut. Dalam hal ini, ia dengan tegas, memastikan galian itu ilegal. Karena setahu dirinya, izin dapat terbit salah satu syaratnya, jika mendapatkan izin dari warga setempat. Namun faktanya, hal tersebut diyakini tidak ada. Sehingga, diharapkan pihak terkait dapat memberikan tindakan yang jelas, karena ini sifatnya sudah mengganggu masyarakat.

“Kami sudah berupaya, melaporkan aktifitas tambang galian C penyedotan pasir di sungai desa Jago Bayo ini kemana mana. Namun sayangnya, belum mendapatkan respon. Maka itu, kami mengharapkan pak Kapolda Bengkulu, hingga pak Gubernur Bengkulu untuk menindak aktifitas galian C, yang kami yakini ilegal ini beroperasi di desa kami. Karena dampak yang diberikan sangat buruk sekali, bagi kemajuan desa,” harap Roni.

Sayangnya, hingga berita ini diterbitkan. Pihak Tambang Galian C penyedotan pasir di desa Jago Bayo Kecamatan lais, yang diketahui pemiliknya bernama Azmi ini, belum dapat dikonfirmasi.

Galian C Ilegal
Laporan Masyarakat ke Bupati bengkulu Utara dan bukti tanda terima laporan dari instansi terkait lainnya

Laporan Masyarakat Tidak Direspon Bupati

Sementara itu, untuk diketahui salah satu mantan Kades Jago Bayo Azwardi, yang mengawal aspirasi masyarakat desa Jago Bayo Kecamatan Lais Bengkulu Utara ini, mengaku sudah mengantarkan masyarakat ini untuk melapor ke Bupati Bengkulu Utara Ir. Mi’an. Namun sayang, hingga sata ini tidak mendapatkan respon alias belum ada tanggapan sama sekali.

Selain itu, pihaknya juga menelurkan surat laporan masyarakat ke pihak penegak hukum, dalam hal ini Mapolres BU. Itu juga, belum juga ada respon positif. Kendati, pihak Mapolres BU sempat memanggil 6 orang masyarakat desa jago Bayo untuk dimintai keterangan atas laporan galian C, yang diduga ilegal dan membawa dampak buruk bagi masyarakat.

“Kami bersama masyarakat, sudah melapor kemana-mana. Namun sayang, baik Bupati maupun pihak penegak hukum hingga saat ini terkesan tutup mata. Lalu, setelah ini kami harus melapor kemana?, jika orang tua di daerah ini saja, tidak merespon laporan kami sebagai masyarakat,” ujarnya.

Ia pun membeberkan, bahwa laporannya ke Bupati BU Ir. Mi’an itu sudah dilayangkan sejak bulan Juli 2019 lalu. Berdasarkan hasil musyawarah, masyarakat desa tanggal 25 Juli 2019, di kediaman ketua BPD. Tentang, tuntutan masyarakat agar dihentikannya kegiatan galian C penyedotan pasir sungai, di Desa Jago Bayo Kecamatan Lais Bengkulu Utara.

“Kami miris dengan cueknya bupati kepada aspirasi masyarakat. Sejatinya, bupati dapat menindaklanjuti hal ini. Jika seperti ini, layakkah Ir. Mi’an menjadi bupati kembali periode berikutnya, lantaran sudah menciderai aspirasi masyarakat,” tandasnya.

Disisi lain, Kapolres BU AKBP Ariefaldi Warganegara, S.Ik melalui Kasat Reskrim AKP Jery Nainggolan, S.Ik ketika dikonfirmasi adanya laporan masyarakat tersebut, mengatakan akan melakukan pengecekan perkembangannya.

“Saya cek dulu ya mas, perkembangannya,” singkat Kasat.

Untuk diketahui, Masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas mengeluarkan material atau komoditas bahan galian tipe C, sebelum mengantongi izin. Pasalnya, jika hal ini diteruskan terdapat pidana yang menantinya.

Izin yang dimaksud ialah, Izin Usaha Pertambangan (IUP) spesifik lagi dalam hal operasi produksi untuk penjualan. Kepemilikan IUP ini, sebagai salah satu syarat pengelola untuk mengeluarkan dan menjual material di galian c.

Berdasarkan UU 4/2009 dan PP 23/2010, komoditas pertambangan dikelompokkan dalam 5 golongan yaitu mineral radioaktif antara lain radium, thorium, uranium. Mineral logam berupa emas, tembaga dan lainnya. Mineral bukan logam antara lain intan, bentonit. Kemudian, batuan seperti andesit, tanah liat, tanah urug, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, pasir urug.

Mengacu pada aturan, galian c penyedotan pasir di desa Jago Bayo Kecamatan lais Bengkulu Utara, termasuk dalam kategori pertambangan batuan. Selain IUP, pengelola wajib mematuhi ketentuan UU 32/2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan lingkungan Hidup dalam pelaksanaannya. Ketentuan pidana untuk pelanggaran UU 4/2009, setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Selain itu, setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara, yang bukan dari pemegang IUP, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment