Miris Bantuan Pemerintah Di Desa Marga Sakti, Diduga Banyak Yang Tidak Tepat Sasaran

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Sejatinya, pemerintah mengucurkan bantuan berbagai macam program, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), JKN KIS, KIP, Rastra hingga bedah rumah serta bantuan untuk lansia dan penyandang cacat itu, untuk disalurkan ke masyarakat miskin. Namun ironis, di wilayah Kecamatan Padang Jaya Bengkulu Utara, tepatnya di dusun II desa Marga Sakti, banyak sekali bantuan untuk keluarga miskin dan tidak mampu tersebut, diduga tidak tepat sasaran. Pasalnya, yang menerima bantuan justru masyarakat ynag dinilai mampu dari sisi ekonomi. Sementara, yang masuk dalam kategoori ekonomi kebawah, tidak sama sekali mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Lalu, seperti apa kinerja pendamping PKH di desa tersebut menjadi pertanyaan tersendiri.

Hasil penelusuran awak media dilapangan, yang langsung terjun ke dusun II desa Marga Sakti, didapati penerima PKH yang dinilai sudah mapan justru menerima bantuan PKH hingga KIS serta KIP.

Ditemui beberapa diantaranya, Aos yang berhasil dijumpai bernama Sulastri, ketika disinggung awak media apakah masih layak menerima bantuan PKH, ia pun menyatakan secara malu-malu sudah tidak layak dan berniat akan mundur.

“Iya om, kami sadar jika dilihat dari penghasilan kami, kami sudah tidak layak menerima. Inshaallah kami akan mundur secepatnya,” ujar Sulastri.

Sementara itu, ada juga yang ditemui awak media, yang sudah memiliki rumah permanen, justru masih mengharapkan bantuan PKH ini. Seperti nyonya Aminarso, ketika ditanya mengaku hanya memiliki rumah permanen ini, dan tidak memiliki harta lainnya. Dimana, untuk penghasilan sendiri ia mengaku belum mencukupi, dan rumah yang ia tempati sendiri, diakuinya berdasarkan bantuan dari mertuanya. Sehingga, ia untuk membiayai anak anaknya sekolah, masih mengharapkan bantuan pemerintah tersebut.

“Demi Allah saya hanya punya rumah ini om, memang permanen dan terkesan bagus. Namun untuk pemenuhan biaya hidup, kami justru belum mampu dan masih mengharapkan bantuan pemerintah ini,” singkatnya.

Lebih menariknya lagi, seorang Kadun II bernama Supomo, yang memiliki penghasilan dengan kebun sawit serta memiliki heler sendiri, justru mendapatkan bantuan pemerintah ini. Disinyalir, disini ada penyalahgunaan jabatan atas jabatan yang diembannya sebagai Kadun. Sayangnya, ketika disambangi di kediamannya, istri Kadun mengaku suaminya tengah sakit perut dan tidak bisa ditemui. Lebih ironisnya lagi, istri kadun ini menyebarkan informasi negatif kepada seluruh penerima PKH di dusun tersebut, tentang warning adanya wartawan yang mempertanyakan status penerima PKH yang tidak layak. Hal ini jelas mengundang tanda tanya terhadap sikap istri Kadun, yang terkesan ketakutan akan data penerima bantuan yang tidak tepat sasaran.

“Bapak lagi sakit om, tidak bisa ditemui. Sakit perut, lambungnya kumat,” singkat Istri Kadun.

Informasi negatif yang didapati awak media, yang disebarkan oleh istri Kadun didapati dari salah satu penerima PKH, yang siap mundur dari statusnya sebagai penerima, mengingat ia sadar diri karena sudah tidak layak menerima PKH. Dalam pesan yang disebarkan istri kadun ini, menyebutkan, “Awas Buk, ada wartawan tadi kerumah, tapi mas Pomo lagi sakit, saiki neng omahe Yati tekon tentang PKH yang ndak tepat sasaran”. Selanjutnya, ia pun menyebarkan informasi, “Tidak usah bicara macam-macam, bilang saja, kalau dirimu mau mundur dari PKH. Soalnya, udah punya mobil. Wartawannya bawa motor besar”.

Disisi lain, masyarakat dusun II desa Marga Sakti yang tidak sama sekali menerima bantuan pemerintah untuk masyarakat miskin, sementara kondisi ekonomi masyarakat tersebut jauh dibawah. Diantaranya, Adi, Husen, Teguh, Mbah Inah, Kasiem dan Sulimin yang saat ini sudah lansia serta lumpuh. Semuanya, nyaris tidak mendapatkan bantuan pemerintah, lalu pertanyaannya, apa yang terjadi dengan Kadun dan pendamping bantuan pemerintah terhadap kondisi seperti ini.

Adi, yang ditemui awak media ia hanya memiliki penghasilan pas-pasan untuk makan sehari-hari saja, ia mengalami kesulitan. Ia yang menjajakan service elektronik ini, merasa benar-benar tidak mampu dan sama sekali hingga saat ini belum menerima bantuan apapun. Sempat juga, ia mempertanyakan hal ini ke Kadun dan desa, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Wah saya sudah berjuang om, karena saya memang tidak mampu dan mengharapkan bantuan itu. Namun, tidak mendapatkan respon yang memuaskan,” bebernya.

Dilain pihak, ada juga penerima bantuan PKH, namun dengan kondisi rumah yang benar-benar sudah tidak layak huni, namun ia bersyukur masih menerima bantuan tersebut. Hanya saja, ia sangat mengharapkan bantuan bedah rumah, karena kediaman yang ia ia tunggu saat ini, sepeninggal suaminya, sudah nyaris roboh yang hanya berlantaikan tanah, berdindingkan papan lapuk, serta dengan kondisi atap genteng yang sudah bocor.

“Saya dapat om bantuan PKH, namun saya berharap ada bantuan bedah rumah, karena rumah saya sudha dalam kondisi benar-benar tidak layak om. Kami harap, bantua dapat segera diturunkan,” imbuhnya.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment