RubriKNews.com, PELABAI – Dengan status daerah rawan bencana, tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebong akan semakin berat. Dalam APBD 2018 BPBD Lebong akan mengajukan pengadaan 2 alat berat, yakni excavator dan wheel loader. ‘’Peralatan penanganan bencana yang kami punya sampai sangat minim,’’ kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Lebong, Drs. Fahrurrazi.
Mereka butuh alat berat berupa hydraulic excavator, dump truck dan bulldozer khusus untuk penanganan bencana longsor. Kegunaannya untuk memuat sekaligus mengangkut material longsor dari lokasi. Tetapi untuk tahap awal, dia ajukan excavator dan wheel loader yang keberadaannya sangat mendesak. ‘’Kami sudah koordinasi dengan Pak Bupati. Intinya peralatan itu harus diajukan dalam perumusan APBD 2018,’’ terang Fahrurrazi.
Tidak dipungkirinya, penanganan bencana yang dilakukan BPBD belum bisa maksimal lantaran keterbatasan peralatan penunjang. Peralatan yang dimiliki BPBD untuk penanganan longsor hanya 3 unit mesin chainsaw. Sedangkan untuk penanganan bencana banjir, BPBD hanya memiliki 3 perahu karet.
‘’Selebihnya peralatan kami satu unit mobil dapur umum. Tetapi dengan keterbatasan peralatan, kami tetap berkomitmen melaksanakan tugas kami semaksimal mungkin,’’ tambah Fahrurrazi.
Sementara lokasi rawan longsor di Lebong, tidak kurang 90 titik. Mulai dari Desa Bioa Sengok, Kecamatan Rimbo Pengadang, Kelurahan Tes, Kecamatan Lebong Selatan hingga Desa Atas Tebing, Kecamatan Lebong Atas. Sementara ini, kebutuhan alat berat dalam penanganan bencana longsor masih mengandalkan peralatan milik Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPRP) Lebong serta rekanan konstruksi dan tambang.
‘’Jika BPBD sudah memiliki alat berat sendiri, kami lebih percaya diri menangani bencana. Kami tidak perlu lagi menunggu alat dari Dinas PU atau rekanan konstruksi. Tenaganya, belajar dari pengalaman selama ini kami selalu dibantu unsur TNI, Polri serta masyarakat,’’ tutup Syamsul.

