Rumah Akan Di Eksekusi, Warga Kelurahan Gunung Alam Sebut Dicurangi Bank BRI Arga Makmur

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Salah satu orang tua dari nasabah Bank BRI Arga Makmur, merasa menjadi korban kecurangan. Pasalnya, rumah beserta tanah dengan diisi ruko dua pintu, akan dieksekusi oleh pihak Pengadilan Negeri Arga Makmur. Diketahui, eksekusi ini berdasarkan permohonan Eri Johan yang merupakan pemenang lelang, yang diadakan oleh Bank BRI Arga Makmur, atas sertifikat kepemilikan hak tanah milik Nomi Husyanti.

Dengan adanya informasi akan eksekusi ini, Damsyir selaku orang tua dari Nomi Husyanti yang mendiami lokasi tanah yang akan dieksekusi, mengancam siap mati, jika eksekusi ini terus berlanjut. Hal ini dilakukannya, mengingat seperti ia ceritakan bahwa putrinya dan dirinya mengaku telah menjadi korban dugaan kecurangan pihak Bank BRI Arga Makmur.

Dimana, kejadian ini bermula ketika putrinya tersebut melakukan peminjaman di Bank BRI Arga makmur pada tahun 2000 keatas, sebesar Rp.100 Juta dan telah bersisa Rp. 85 Juta. Ketika itu, Nomi menganggunkan dua sertifikat sekaligus, yakni sertifikat beserta rumah yang berlokasi di wilayah desa Karang Suci Arga Makmur, dan satu lagi di wilayah Kelurahan Gunung Alam Kecamatan Arga Makmur.

“Saya tidak akan terima, jika tempat tinggal saya ini di eksekusi oleh pihak yang telah merugikan saya. Karena ini, merupakan harta saya dan saya telah berupaya untuk mempertahankannya. Namun dipersulit, oleh pihak Bank BRI Arga Makmur. Jika eksekusi ini terjadi, saya siap mati. Sejauh ini, saya sudah menyiapkan kain putih kafan,” ujar Damsyir yang ditemui awak media di kediamannya, Rabu (25/9).

Damsyir pun menceritakan, kejadian dugaan kecurangan yang telah dialami putrinya tersebut, dari pihak Bank BRI Arga Makmur. Dimana poin-poin kecurangan itu disebutkannya, pihak BRI Arga Makmur pertama mempersulit putrinya tersebut selaku nasabah peminjam uang, untuk berupaya menyetorkan angsuran berjumlah Rp. 1,5 Juta per bulan, atas dasar saran dari pihak Bank. Dimana ketika itu, pihak Bank BRI Arga Makmur berdalih Nomi sudah tidak diterima membayar angsuran, dengan dalih Kepala BRI Arga makmur ganti, waktu itu yang menyampaikan bernama Akok.

Selanjutnya, dugaan kecurangan kedua disebutkannya, pihak Bank BRI Arga Makmur diduga telah menggelapkan uang miliknya sejumlah Rp. 50 Juta, yang disetorkannya pada tanggal 18 November 2015 pada pukul 14.49 WIB. Dikatakannya, semestinya sudah mengurangi pokok hutang putrinya tersebut. Faktanya, uang Rp. 50 Juta tidak kembali, lelang tetap terlaksana yang dimenangkan oleh Eri Johan dengan sejumlah uang Rp. 70 Juta.

“Saya tidak terima dicurangi seperti ini, Kami memang orang bodoh, tapi bukan berarti kami harus dibodohi. Kalau mau dinilai harta, yang kami miliki nilainya lebih dari itu. Tapi kenapa, begitu kami memperjuangkan harta kami ini, dengan niat membayar piutang justru dipersulit oleh pihak Bank BRI Arga Makmur,” bebernya.

Damsyir pun melanjutkan, kekesalannya terhadap sikap Bank BRI Arga Makmur. Ketiga, pihaknya mendapatkan perlakuan kecurangan itu, tidak adanya pemberitahuan sebelumnya, jauh-jauh hari bakal adanya pelelangan atas sertifikat kepemilikan hak tanah miliknya tersebut, dari pihak Bank. Justru, pemberitahuan datang yang ketika itu disampaikan oleh Mantri Bank BRI Arga Makmur bernama Johari, pada hari pelelangan.

Dimana ketika itu, Johari meminta dirinya mencari uang untuk menebus sebelum pelelangan sebesar Rp. 60 Juta. Hal ini jelas telah merugikan pihaknya, sejatinya pemberitahuan dilakukan jauh-jauh hari, sehingga pihaknya dapat berupaya mempertahankan aset miliknya tersebut.

“Masa iya, memberitahukan soal bakal dilelang itu pada hari pelelangan. Apakah seperti itu, prosedurnya melelang harta milik warga negara Indonesia. Kami memiliki hak atas kemerdekaan harta kami, namun jika seperti ini, pihak Bank BRI Arga Makmur sudah merampas harta kami, layaknya zaman penjajahan. Kami ingin keadilan,” harapnya.

Sejauh ini, kami telah berupaya membawa masalah ini ke Pengadilan Negeri Arga Makmur. Mengingat, pihaknya telah dirugikan lantaran adanya indikasi kecurangan dari pihak Bank BRI Arga Makmur. Namun, perjuangan yang dilaluinya itu, ditolak oleh pihak Pengadilan, begitu juga permohonan yang dilakukan pihak Bank BRI Arga Makmur juga ditolak. Namun, ini justru mau dieksekusi, jelas ini sangat merugikan dirinya.

BRI Arga Makmur Bantah Curangi Nasabah

Sementara itu, Menepis tudingan nasabah. Pihak Bank BRI Arga Makmur ketika dikonfirmasi, menyebutkan semua proses sudah melalui prosedur yang benar. Mulai dari, prosedur pemberitahuan, hingga toleransi yang diberikan kepada nasabah yang dinilai telah melakukan One Prestasi tersebut. Soal uang Rp. 50 Juta, yang sudah diberikan nasabah kepada pihak Bank BRI Arga Makmur, itu merupakan angsuran pinjaman nasabah, yang dinilai masih bersisa kendati aset milik nasabah telah dilelang.

“Semua prosedure sudah kami lalui, dan nasabah bernama Nomi Husyanti dan suaminya Hendriyanto merupakan nasabah one prestasi. Kami sudah memberikan toleransi kepada nasabah, mempertanyakan perihal hutangnya, kapan akan dibayarkan, dengan dilakukannya pemanggilan dan menandatangani surat pernyataan. Namun kenyataannya, nasabah tersebut justru masih juga one prestasi. Hingga, akhirnya aset miliknya dimana dokumen yang sudah dianggunkan ke pihaknya terpaksa dilelang,” kata Bagian Administrasi Kredit Bank BRI Arga Makmur Artilawati.

Belum Eksekusi, Baru Koordinasi

Disisi lain, ketika awak media mencoba mengkonfirmasi kepada pihak Pengadilan Negeri Arga Makmur, terkait informasi bakal adanya eksekusi pada tanggal 26 September 2019, pada Hari Kamis. Pihak Pengadilan Negeri Arga Makmur, memberikan klarifikasi. Namun klarifikasi tersebut, sejatinya awak media melalui humas Pengadilan Negeri. Namun, ketika didatangi Humas Pengadilan tidka berada di tempat, dan akhirnya awak media berhasil menjumpai bagian Panitera Pengadilan Negeri, yang menyebutkan hari yang disebutkan itu, bukan eksekusi, melainkan bakal diadakannya rapat bersama pihak BPN Bengkulu Utara dan pihak Kepolisian, untuk dilakukannya eksekusi tersebut.

“Terkait hal ini, kami tidka memiliki kapasitas untuk berbicara dan menerangkan lebih dalam soal eksekusi tersebut. Itu wewenangnya humas Pengadilan Negeri Arga Makmur. Kendati dmeikian, saya meluruskan informasi itu. Pada Tanggal 26 September 2019 itu, bukan eksekusi, melainkan akan diadakannya rapat untuk eksekusi tersebut. Untuk lebih jauhnya, silahkan ke pihak humas,” singkat Ibu Rina.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment