Miris, Hanya Karena Minta Beras Secanting Tidak Dikasih Kades, Warga Desa Talang Tua Sampai Di Polsek Padang Jaya

Bertahun-tahun Tinggal Dirumah Tidak Layak Huni, Luput Dari Bantuan

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Malang dialami Sukahar (67), warga desa Talang Tua Kecamatan Padang Jaya Bengkulu Utara ini. Senin kemarin (11/5), ia harus berurusan dengan pihak Mapolsek Padang Jaya, hanya karena meminta beras secanting kepada Kades untuk dimasak, namun tidak dikasih. Ironisnya lagi, Ana salah satu warga yang mendapatinya dengan kondisi seperti itu, langsung memposting di media sosial (medsos) kondisi sebenarnya Sukahar ini, mendapatkan hujatan dari pihak pemerintah desa hingga berujung mediasi di Mapolsek.

Seperti diketahui, desa Talang Tua Kecamatan Padang Jaya Bengkulu Utara Senin (11/5) mendadak heboh karena perangkat desa memprotes atas adanya postingan di medsos, adanya potret buram kondisi kemiskinan di desa ini. Dimana, perangkat desa yang difasilitasi oleh Ketua BPD menyelenggarakan musyawarah internal desa, dimana mengundang Sukahar, Ana selaku yang memposting di medsos, dan perangkat desa, serta dihadiri oleh pihak Mapolsek Padang Jaya, yang diduga dijemput oleh Kepala Desa guna meminta perlindungan, karena banyaknya awak media yang hadir di lokasi.

Diketahui, kejadian ini bermula ketika Sukahar mendapatkan informasi dari tetangganya, mengenai adanya beras bantuan untuk fakir miskin yang terdampak Covid 19. Ketika itu, ia mendatangi rumah Kepala Desa Susmo yang diketahui menjadi tempat pendistribusian beras bantuan tersebut. Namun, nahasnya ketika ia tiba di kediaman Kades, bukannya beras yang didapat hari itu, justru penolakan hanya karena dirinya disebut memilih untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Awalnya saya datang ke Kades, meminta beras bantuan. Namun, kades mengatakan tidak ada jatah saya, karena saya dikatakan memilih BLT ketimbang sembako. Ketika itu, saya tanya kapan BLT itu turun, dan Kades mengucapkan sekitar dua minggu lagi. Saat itu, perut saya sudah lapar, dan dirumah tempat tinggal saya sudah tidak ada yang bisa dimasak. Sehingga, saya pun meminta beras secanting untuk dimasak, agar dapat dimakan hari itu. Permintaan saya ini ditolak oleh Kades, karena menurut kades tidak ada bantuan sembako untuk saya,” ujar Sukahar.

Sukahar pun menyambung ceritanya, ia pun memilih pulang dengan tangan hampa dalam kondisi perut yang sudah lapar. Saat itu, ia berinisiatif mendatangi pak Ngadianto yang diketahui merupakan mantan Kepala Dusun. Dirumah Ngadianto, ia meminta belas kasihan meminta secanting atau dua canting beras untuk dimasak, karena sudah merasa kelaparan. Sembari, ia mencurahkan apa yang ia alami ketika mendatangi kediaman kades untuk meminta beras. Saat itu, putri Ngadianto bernama Ana, langsung respon dan merasa iba melihat kondisinya. Yang ikut mengantarnya kerumah sambil membawa beras dua canting.

“Saya tidak begitu tahu dengan dunia elektronik saat ini, namun putrinya pak Ngadianto pamit ke saya, untuk memposting apa yang saya alami ini di media sosial katanya. Dimana, saya menjelaskan semua atas apa yang saya alami, ketika meminta beras di rumah kades, hingga saya juga menjelaskan belum pernah tersentuh bantuan apapun, sejak tahun 2012 ia tinggal di desa Talang Tua itu,” bebernya.

Ia pun mengakui, jika dirinya memiliki rumah yang saat ini dihuni oleh mantan istrinya. Dimana dibeberkannya, dikatakan mantan istrinya tersebut karena dirinya sudah pisah ranjang sejak tahun 2012 silam. Karena rumahnya itu saat ini dihuni mantan istrinya dan anaknya tersebut, ia pun berinisiatif tinggal di atas lahan kebun milik warga setempat, mendirikan pondok. Ia pun tinggal di pondok itu sejak tahun 2012, dan mengaku untuk makan sehari-hari didapati bekerja serabutan membersihkan rumput kebun ataupun pekarangan rumah warga.

“Ia kalau menurut saya, saya dan istri sudah cerai. Namun, tidak ada kartu kuning perceraian. Sejauh ini, saya tinggal sendiri dengan mencari untuk kebutuhan hidup saya sendiri membersihkan perkarangan ataupun membersihkan kebun masyarakat sini,” kenangnya.

Ana : Postingan Kami Murni Karena Prihatin

Mengenai postingan di medsos oleh putrinya pak Ngadianto, ia terkejut karena postingan itu justru nyaris mencelakai orang yang sudah membantunya. Dalam hal ini, ia tidak terima dan siap bersaksi, bahwa apa yang sudah diposting oleh Ana itu benar adanya, sesuai dengan apa yang dialaminya. Ia pun tidak habis fikir, melihat kondisinya saat ini, ia menilai tidak pernah merasa ada pemeirntah desa. Ini justru ketika ada orang lain yang membantu, malah mendapatkan hujatan, dan ini sangat ia sesalkan.

“Saya pun siap bersaksi dihadapan pak Polisi, karena apa yang diposting oleh Ana itu, sesuai dengan apa yang saya alami. Mbak Ana tidak salah, tapi kenapa justru pihak desa menyalahkan mbak Ana dan keluarga pak Ngadianto. Saya tidak terima ini, karena memang faktanya perhatian pemdes di desa kami ini terhadap orang seperti saya, sama sekali tidak ada. Untuk kedepan, saya tidak akan mau lagi menerima bantuan apapun bentuknya dari desa,” tandas Sukahar.

Sementara itu, Ana Setiowati selaku warga yang merasa prihatin dengan kondisi Sukahar, menyebutkan dirinya murni memposting kondisi Sukahar di medsos, karena merasa kasihan dengan kondisi Sukahar. Berharap, mereka yang berwenang dan memiliki hati dapat membantu Sukahar. Karena menurutnya, kondisi Sukahar ini sudah sangat-sangat memprihatinkan, dan jelas membutuhkan uluran tangan para dermawan ataupun pihak pemerintah.

Dalam hal ini, pihaknya sama sekali tidak ada niat untuk memojokkan siapapun, temasuk perangkat desa. Namun, karena pengakuan Sukahar sendirilah yang menyebutkan bahwa dirinya melihat ada perangkat desa, yang menenteng bantuan sembako dari rumah kades. Sehingga, tanpa di sengaja ia pun memposting tulisan itu, namun dirinya mempertegas tidak pernah menyebutkan nama dan desa.

“Saya murni niat menolong mas, karena sangat kasihan akan memprihatinkan kondisi pak Sukahar itu. Tapi, jika masalah postingan saya itu menjadi permasalahan, saya siap minta maaf. Dengan catatan, pak Sukahar ini mendapatkan perhatian dari pemerintah karena dinilai layak dibantu,” singkatnya.

Kades : Tidak Benar Semua Tudingan Itu

Pada kesempatan itu, Kepala Desa Susmo yang dikonfirmasi awak media pasca adanya pertemuan musyawarah internal desa di kantor Desa, menyangkut permasalahan ketidak terimaan perangkat desa, atas apa yang diposting oleh Ana putrinya Ngadianto. Pihaknya tidak mempermasalahkan soal postingan itu, namun yang menjadi masalah adanya sebutan perangkat desa yang mendapatkan bantuan sembako. Itu yang jadi masalah, makanya desa sepakat mengadakan musyawarah untuk mengetahui alasan dan seperti apa klarifikasinya.

“Tidak ada niat kami menjatuhkan masyarakat kami sendiri, tapi kami atas nama desa sangat keberatan jika disebutkan mendapatkan bantuan sosial sembako dari dampak covid 19 ini. Kami hanya klarifikasi kok, tidak lebih. Mengenai masalah pak Kahar, itu sudah kami masukkan ke daftar penerima BLT, jadi ia nunggu dua minggu kedepan, hingga dana desa cair. Soal dia minta beras nggak saya kasih, itu nggak benar, karena dia datang ke rumah saya hanya menanyakan bansos sembako untuknya mana, ia saya jawab tidak ada. Sudah hanya disitu aja, nggak ada saya menolak dia meminta beras,” ujar Kades.

Kades juga membantah, ketika dirinya disinggung tutup mata dengan kondisi Sukahar, yang hidup dengan dibawah kesederhanaan. Karena dalihnya, Sukahar itu punya rumah yang saat ini ditinggali oleh mantan istrinya dan anak-anaknya. Pondok yang dihuninya saat ini, bukanlah rumah dan tanahnya. Selain itu, pihaknya juga sulit untuk memastikan Sukahar ini menerima bantuan, karena ia jarang menetap di desa.

“Sukahar itu jarang menetap didesa, dia sering bepergian. Jadi, bagaimana kami mau memastikan dia dapat bantuan. Kemudian, soal dirinya tidak mendapatkan bantuan BPNT ataupun KIS Kesehatan, itu bukanlah ranah kami melainkan pemerintah pusat, silahkan tanya pemerintah pusat dan pihak Kecamatan,” kilah Kades.

Lebih jauh awak media mempertanyakan dan mempertegas status kewargaan Sukahar, Kades tidak menampik kalau Sukahar itu warga desa Talang Tua. Namun, dirinya tidak bisa berbuat banyak, karena yang mengetahui semua tentang warganya itu bukan dirinya, melainkan perangkat desa mulai dari Kasi hingga Kadun dan RT.

“Masa saya juga yang mengurus masyrakat, banyak sekali pekerjaan saya. Itukan sudah ada kewenangannya masing-masing, saya hanya menerima laporan, itu saja. Bukan urusan saya itu, sana tanya perangkatnya atau Sekdes,” sambung Kades.

Disisi lain, salah satu perangkat desa yang merasa risih akan postingan tentang kondisi miris Sukahar ini, Titi memprotes keras apa yang dilakukan oleh Ana tersebut. Protesnya ini menilai, aksi warga ini sudah mencoreng nama baik desa dan harus ada konsekwensi dan alasan yang jelas atas postingan itu.

“Saya sangat kesal sekali mas, kami yang notabene juga perangkat desa dituding menerima bantuan. Kalau ada, mana buktinya, karena kami dengan tegas sama sekali tidak menerima bantuan apapun. Harapan saya, Ana ini dapat diproses hukum untuk efek jera,” katanya.

Kapolsek : Ini Hanya Miss Komunikasi

Menanggapi hal ini, Kapolsek Padang Jaya Iptu Didik Mujianto, SH, ketika dikonfirmasi pasca mediasi yang terpaksa dilakukan di kantor Mapolsek Padang Jaya, karena dinilainya mediasi yang dilakukan di kantor desa tidak kondusif, menyebutkan. Bahwa, kejadian ini hanya kesalahan miss komunikasi antara warga dan pemerintah desa. Namun, permasalahan ini sudah selesai dan sudah saling menerima. Untuk mengantisipasti tidak terulang kembali kejadian yang serupa, pihaknya meminta kedua belah pihak baik Sukahar, Ana hingga pemdes untuk menandatangani surat pernyataan bahwa masalah ini sudah selesai di kantor Mapolsek.

“Sudah selesai, ini kita anggap hanya miss komunikasi aja. Hanya saja, tetap masalah ini kita minta semua pihak menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi hal yang sama. Harapan kami, atas kejadian ini, pihak pemdes untuk peka terhadap kondisi masyarakat saat ini, terlebih dalam kondisi pandemik covid 19 ini. Tentunya, ini menjadi perhatian semua pihak, karena gonjang ganjing ekonomi saat ini yang luar biasa terdampak. Untuk masayarakat sendiri, agar dapat menjaga komunikasinya dengan pihak Pemdes, karena dengan komunikasi, tentunya akan meminimalisir sebuah kenyataan menjadi masalah,” demikian Kapolsek.

Pantauan awak media di lokasi TKP, musyawarah yang awalnya di kantor desa Talang Tua terpaksa dipindahkan oleh pihak Mapolsek Padang Jaya ke kantor Polsek. Karena, dinilai tidak kondusif, lantaran musyawarah yang sebelumnya tanpa dihadiri oleh Kades dan pihak Mapolsek, berlangsung panas. Antara, keluarga Ngadino dan pihak perangkat desa, saling bersahutan. Belum lagi, aksi protes makian perangkat desa, yang dipatahkan oleh Sukahar, selaku awal mula kejadian ini terjadi.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment