Masuki Tahun Keempat, Pembangunan Gapura Tabat Bengkulu Utara-Lebong Terkesan Ditinggalkan

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Miris memang, jika dilihat dari sisi penggunaan anggaran oleh Pemkab Bengkulu Utara, yang terkesan mubadzir. Bagaimana tidak, pembangunan gapura Tapal Batas (Tabat) Bengkulu Utara-Lebong, terkesan ditinggalkan tanpa adanya penyelesaian pembangunan. Alhasil, bangunan yang cukup berdiri kokoh di atas puncak bukit resam desa Rena Jaya Kabupaten BU ini, layaknya bangunan usang yang menguras anggaran APBD Tahun Anggaran 2017 sejumlah Rp. 700 Juta.

Hal ini pun tidak ditampik oleh warga setempat, Roni yang ditemui awak media ketika melintasi perbatasan ini mengatakan. Pembangunan Gapura Tabat ini dilaksanakan tahun 2017 silam, dan hingga saat ini sudah memasuki tahun baru 2021 tidak dilanjutkan lagi pembangunannya. Sehingga, kesan bangunan tabat ini sudah ditinggalkan dan dibiarkan layaknya bangunan usang.

“Sejauh ini kami tidak tahu, mengapa pembangunan Tabat yang sejatinya bisa menjadi ikon ini tidak dilanjutkan lagi. Padahal, sangat disayangkan, jika gapura ini rampung tentunya akan menjadi pemandangan menarik ditengah hutan diatas bukti resam ini. Seperti halnya, perbatasan di Kabupaten Kepahyang dan Benteng. Sangat menarik, dan menjadi tempat selvi. Namun, dengan bangunan usang ini siapa juga yang mau mampir, justru bangunan usang ini meninggalkan kesan angker,” ujarnya singkat mengomentari awak media yang tengah memperhatikan kondisi bangunan gapura tersebut.

Ia pun tidak menyalahkan siapapun, terkait insiden ketika pembangunan gapura ini. Disisi Pemkab BU juga semestinya tidak berhenti sampai disini dalam membangun hal yang positif seperti ini. Semestinya, pembangunan ini dapat segera diselesaikan, sehingga anggaran negara yang telah digelontorkan tidak terkesan mubadzir dan dapat bermanfaat serta menjadi suatu pemandangan untuk setiap masyarakat yang melintasi wilayah ini.

“Kepada Pemkab, menurut kami lebih baik selesaikan pembangunan gapura ini. Jangan ditinggalkan seperti ini, layaknya bangunan usang. Tentunya, tidak sedikit loh uang APBD yang sudah terkuras pada pembangunan ini. Sejatinya, pembangunan ini dapat diselesaikan agar tidak muncul kesan menyia-nyiakan uang negara,” imbuhnya.

Sekedar mengingatkan, pembangunan Gapura Tabat BU Lebong ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 2017, dimana dalam pembangunannya terdapat konflik dan keberatan dari pihak oknum di Kabupaten Lebong. Sehingga, pembangunan tabat ini terhenti, dengan dalih dari Pemkab BU tidak bisa dilanjutkan lantaran kehabisan waktu kontrak, karena ketika pengerjaan banyak waktu yang terbuang. Sejauh ini, pihak Pemkab BU sudah dikonfirmasi mulai dari tahun 2018 hingga saat ini, yang berjanji akan melanjutkan pembangunan gapura tabat ini. Namun hingga saat ini memasuki tahun 2021, pembangunan gapura tabat tidak kunjung dilanjutkan.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment