4 Desa Ancam Golput, Lakukan Aksi Suarakan Aspirasi Minta Didengar Pemerintah

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Sepertinya, janji seorang Bupati Bengkulu Utara Ir. Mi’an tidak dipercaya lagi oleh masyarakat 4 desa di wilayah Kecamatan Batik Nau Kabupaten Bengkulu Utara. Ini terlihat, dari aksi simpati yang dilakukan oleh masyarakat di Jalinbar yang putus, yang tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Jika hingga Februari 2019, tidak ada tanggapan dari Pemerintah, dipastikan akan golput serentak.

Padahal, sebelumnya Bupati Bengkulu Utara Ir. Mi’an telah menegaskan, bahwa pihaknya tengah berupaya bersama dengan Pemerintah provinsi Bengkulu. Yakni Gubernur, untuk menyampaikan aspirasi masyarakatnya ke Pemerintah Pusat. Namun, hal ini tidak didengar oleh warga 4 desa yang tetap mengancam Golput. Keempat desa tersebut diantaranya, warga Desa Urai Kecamatan Ketahun dan warga Desa Serangai, Selolong, Air Lakok Kecamatan Batik Nau Kabupaten, Bengkulu Utara

Hal ini tidak ditampik Camat Batik Nau, Suryadi yang membeberkan. Bahwa, pihaknya mendengar dari masyarakat, masih berpegang teguh dengan apa yang di ucapakan. Yakni, akan golput dalam pemilu ini nanti, dengan alasan mengharapkan perhatian pemerintah.

“Kami sudah memberikan pemahaman dan arahan, bahwa hal ini tengah di perjuangkan oleh pak Bupati bersama dengan Gubernur. Namun, apa yang disampaikan, mereka masih berpegang teguh dengan aspirasi mereka,” ujar Camat.

Camat pun membeberkan, menurut aspirasi masyarakat. Masyarakat hanya melihat kondisi hingga bulan Februari 2019 ini. Jika, tidak kunjung ada tanggapan dan pergerakan dari pihak Pemerintah, baik di daerah maupun di pusat. Dipastikan, apa yang di tegaskan untuk tidak terlibat pada Pemilu mendatang, itu akan dilakukan.

“Seperti itulah kata masyarakat, yang masih berpegang teguh dengan ucapan mereka. Yang, memberikan deadline kepada pemerintah hingga bulan Februari mendatang,” tutup mantan Kabag Kesra Setdakab BU, yang di temui dilokasi ini.

Teriakan Warga Dilokasi Jalinbar

Sementara itu, dilokasi ketika ditemui salah seorang warga Desa Urai, Kecamatan Ketahun Jaya Harianto, mengatakan. Deklarasi golput ini, merupakan inisiatif dari masing masing warga, tanpa adanya unsur paksaan. Dan ini, merupakan bentuk protes masyarakat kepada pemerintah, yang tidak memikirkan keadaan masyarakat.

“Deklarasi ini merupakan inisiatif dari masing-masing warga, tanpa ada unsur paksaan sebagai bentuk protes masyarakat kepada pemerintah,” kata Jaya

Jaya menambahkan, pihaknya memberi waktu hingga tanggal 16 April 2019, jika ada kesepakatan antara pemerintah kabupaten, maupun provinsi dengan masyarakat. Sebelum tanggal (16/4), maka masyarakat akan bersedia memberikan hak suaranya, pada pemilu yang akan datang.

“Kami memberikan waktu hingga 16 April 2019 mendatang, jika ada kesepakatan antara Pemkab BU bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan kami, maka kami bersedia memberikan hak suara kami pada Pemilu nanti,” imbuhnya

Hal senada, yang diungkapkan oleh salah seorang warga Desa Serangai Juhari. Ia meminta, kepada pemerintah untuk memenuhi tuntutan masyarakat, dan memperhatikan kondisi jalan yang melewati Desa Bintunan menuju Desa Urai.

“Kami hanya meminta pemerintah, memenuhi tuntutan kami, itu saja,” harapnya.

Selain itu juga Juhari menuturkan, jika dalam rentang waktu 2 bulan. Pemerintah, tidak juga menghiraukan tuntutan masyarakat. Maka, di pemilu nanti dan pemilu yang akan datang, semua warga desa air lakok, selolong, serangai dan urai, tidak akan memilih atau golput.

“Bila dalam 2 bulan, pemerintah tidak menghiraukan. Maka, semua warga 4 desa ini tidak akan pernah memilih lagi atau golput,” tandasnya.

Pantauan dilapangan, aksi yang digelar masyarakat selain melakukan aksi menyarakan aspirasi, juga dilakukan aksi gotong royong pembersihan jalan di wilayah tersebut. Beruntungnya, aksi ini tetap berjalan tertib dengan pengawalan beberapa aparat penegak hukum, dari TNI dan Polri.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment