Proyek Tebas Bayang Dinas PUPR Provinsi Bengkulu Terindikasi Korupsi

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Kegiatan perawatan ruang milik jalan (Rumija) atau biasa disebut tebas bayang jalan, yang dilaksanakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Bengkulu di Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2019 dan 2020, terindikasi korupsi.

Bagaimana tidak, kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun ini, seperti tahun 2019 yang dianggarkan sebesar Rp 1.6 Miliar lebih, dan Tahun 2020 pun dianggarkan Rp 3 Miliar lebih, terindikasi adanya manipulasi data dan pekerja serta terindikasi mark’up. Diketahui, kegiatan tersebut dibagi menjadi beberapa titik lokasi khususnya untuk perawatan Rumija untuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, serta kabupaten lainnya di Provinsi Bengkulu.

Rusdi salah satu warga desa Talang Denau, Kecamatan Kota Arga Makmur Bengkulu Utara, mengakui bahwa kegiatan tebas bayang jalan didesanya dikerjakan. Dimana diketahui, pekerjaan tebas bayang di desa Talang Denau merupakan masuk dalam link pekerjaan Tanjung Agung Palik-Gunung Selan. Ia pun membeberkan, pekerja yang melaksanakan penebasan pembersihan jalan berjumlah 4 hingga 6 orang. Namun, ia tidak begitu memahami berapa orang yang semestinya bekerja tersebut.

“Sepengetahuan dan seingat saya, pembersihan rumput di pinggir jalan itu dikerjakan, dan dalam satu tahun saya melihat dua sampai tiga kali dibersihkan. Karena, pekerjaannya sering mengisi bensin di warung saya, saat mereka ke lapangan untuk kerja,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Terpisah, salah seorang pekerja yang terlibat dalam kegiatan tebas bayang jalan tersebut, Suherman (51) ketika ditemui awak media, menyebutkan, bahwa dirinya hanya bekerja selama 4 hari kerja dalam tempo 1 tahun. Begitu juga ditambahkannya, terhadap rekan-rekan lainnya satu desa yang dilibatkan dalam pekerjaan tersebut.

“Kalau seingat saya, saat itu saya hanya disuruh bekerja 4 hari kerja. Kemudian, teman yang sama-sama bekerja saat itu ada juga yang hanya kerja 2 hari. Dalam satu bulan saat itu, saya hanya kerja 4 hari dan dibayarkan upah 100 ribu perhari,” bebernya.

Lebih jauh Suherman membeberkan, tupoksinya dalam pekerjaan sebagai operator manual. Disinggung, kapan dimulai pekerjaan tebas bayang jalan Tahun 2019 lalu. Ia lupa, dan hanya ingat jumlah hari kerjanya saja.

“Saya tukang pembersihan yang menggunakan parang, bukan operator yang menggunakan mesin rumput. Saya lupa, bulan berapa saat itu,” pungkasnya.

Diketahui, pekerjaan perawatan ruang milik jalan (Rumija) atau tebas bayang jalan milik Dinas PUPR Provinsi Bengkulu dibagi menjadi beberapa link, diantaranya Tanjung Agung Palik (TAP)-Gunung Selan, TAP-Tanjung Raman, TAP-Kerkap, Gunung Selan-Giri Mulya-Atas Tebing. Begitu juga, untuk didaerah lain, pekerjaan tebas bayang ini terpisah pada beberapa link jalan milik Provinsi Bengkulu.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment