Harga TBS, Kadisbun : Derita Petani Dibebankan Transport Angkutan CPO

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Menarik, petani sawit di Kabupaten Bengkulu Utara dinilai wajar menjadi korban dengan harga Tandan Buah Sawit (TBS) yang tidak sama dengan daerah lainnya, seperti halnya di Jambi yang mencapai Rp.1.900 hingga 2.000. Dimana, Kabupaten Bengkulu Utara secara khususnya juga se Provinsi Bengkulu secara umumnya.

Pasalnya, petani sawit dibebankan biaya angkutan CPO oleh perusahaan yang pengangkutannya sendiri hingga mencapai wilayah Kota Dumai Provinsi Riau. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Perkebunan Bengkulu Utara Ir. Buyung Azhari.

“Kami sudah mengikuti rapat di Provinsi Bengkulu, dan hasilnya harga TBS Sawit hanya Rp. 1.665. Ini saya akui jelas berbeda dengan daerah lain, yang harga TBS nya mencapai Rp. 1900 hingga 2.000 lebih. Setelah saya analisa, dan cari tahu kenapa penyebab harga tanda buah sawit ini sangat rendah, rupanya dikarenakan petani dibebankan biaya angkutan transportasi CPO,” ujar Buyung.

Dalam hal ini, pihaknya juga sudah berupaya mencari tahu dan menyampaikan pada rapat di provinsi Bengkulu, seperti apa solusi untuk meningkatkan tandan buah sawit bagi petani ini. Dalam hal ini dijelaskannya lebih jauh, untuk meningkatkan harga TBS ini, pihak pemerintah sejatinya dapat mengupayakan pelabuhan yang ada di Bengkulu ini, untuk dapat seperti layaknya di wilayah Kepulauan Dumai.

Produksi CPO Akan Lebih Baik, Jika Dikirim Langsung

Dimana dapat mengirimkan hasil produksi CPO perusahaan langsung ke luar negeri, tanpa melalui pengiriman ke Dumai lagi. Selain itu, adanya Bank Devisa, guna memudahkan perusahaan dalam mengirimkan hasil produksi TBS tersebut.

“Dalam hal ini, saya kaui sangat miris petani justru dibebankan biaya angkutan CPO mencapai Rp. 300/kg. Bayangkan, Rp. 300 ini dibenankan ke petani untuk upah angkut transportasi hasil produksi CPO. Namun, jika hal tersebut dapat dipangkas, tentunya harga TBS dapat meningkat dan uang Rp. 300/kg untuk upah angkut itu menjadi hak petani, dan dipastikan petani dapat sejahtera,” bebernya.

Disamping itu, keuntungan petani juga terpangkas dari sisi upah angkut lansir dari kebun ke luar kebun. Itu juga merupakan, salah satu beban para petani, sehingga dalam hal ini pemerintah semestinya dapat membantu para petani.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment