Diduga Curi Arus Listrik, Pemilik Radio Setiawana Miliki 3 Meteran KWh Listrik

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Menarik, terkait indikasi pencurian arus listrik yang dilakukan dikediaman pribadi Kades Karang Anyar II Arga Makmur yang juga merupakan pemilik Radio Setiawana Nada Nusa bernama Ganda Suprihat ini, juga didapati dikediamannya memiliki tiga meteren KWh listrik sejumlah 3 unit. Padahal, jelas didalam aturan setiap rumah tidak diperkenankan memiliki lebih dari 1 KWh listrik. Berdasarkan fakta yang ditemukan oleh tim P2TL ULP PLN Arga Makmur, semakin memperjelas aksi dugaan pencurian arus listrik oleh Ganda Suprihat.

Seperti diketahui, temuan tim P2TL, pelanggaran yang dilakukan oleh Ganda Suprihat masuk dalam pelanggaran P3. Dimana, pelanggaran ini telah mempengaruhi energi dan batas daya pada kWh meter, dengan cara oknum Kades ini, menyambungkan langsung instalasi miliknya dari kabel SR sebelum KWh meter. Kemudian, penyambungan sendiri dengan menggunakan kabel SR yang diisolasi langsung ke MCB sebagai pengaman. Dimana, hasil stroom dari instalasi dugaan pencurian tersebut, dialiri pada bangunan milik pelanggan yang lain, dengan secara langsung KWh meter pelanggan yang lain tidak mengukur secara optimal pemakaian pelanggan. Dikarenakan instalasi milik pelanggan pada KWh meter lain, menggunakan stroom yang dari hasil pencurian arus tersebut.

“Aksi dugaan pencurian yang dilakukan oleh pelanggan kita ini, menyambungkan langsung aliran listrik dari kabel tiang ke instalasi rumah pribadinya, tanpa melalui meteran KWh resmi milik PLN. Alhasil, ulah dari oknum ini jelas merugikan negara dan telah melanggar hukum kelistrikan dinegara ini,” ujar Adrian.

Adrian juga mengemukakan, bahwa awal mula temuan timnya ini mencurigai adanya sambungan kabel dari tiang listrik sebanyak 4 unit, yang mengarah ke belakang kediaman utama oknum Kades ini. Dari kecurigaan tersebut, akhirnya tim melakukan pengecekan. Alhasil, didapati kediaman itu memiliki dua meteran KWH pasca bayar yang ditempatkan di depan atas nama A. Lahas yang merupakan nama orang tua Ganda Suprihat, dan juga Eli Sukmawati yang diketahui berstatus istri dari oknum kades ini. Sementara, pengecekan lebih jauh juga ditemukan adanya meteran KWH pra bayar atas nama Ganda Suprihat, yang ditempatkan di belakang rumah induk Ganda Suprihat, dengan bangunan papan. Dibangunan tersebut jugalah ditemukan kabel 4 unit berada. Yang mana, terdapat semacan Kontaktor yang dibuat oleh ahli instalatir, yang merupakan pengaman listrik yang tidak dilalui oleh meteran KWH.

“Temuan kami benar adanya, bahwa kediaman pelanggan kami ini memiliki tiga meteran KWH sekaligus dengan modus nama yang berbeda-beda. Kendati demikian, temuan ini jelas berdasarkan aturan tidka diperkenankan, karena dinilai sudah merugikan orang banyak,” demikian Adrian yang dikonfirmasi pasca melakukan pengecekan.

Menariknya lagi, ketika hal ini dikonfirmasi oleh awak media kepada oknum Kades Karang Anyar II Arga Makmur Ganda Suprihat melalui pesan singkat, ia justru menegaskan temuan pihak PLN Arga Makmur ini bukanlan urusan pemerintah desa, melainkan urusan pribadi. Jadi, ia menandaskan, agar hal ini tidak dikait-kaitkan dengan statusnya sebagai Kades Karang Anyar II. Ia pun menegaskan, bahwa temuan P2TL PLN Arga makmur itu salah, karena dirinya bukan sebagai Kades tapi pelanggan PLN. Sementara, ia juga menggelitik PLN yang disebutkannya berbisnis di desa Karang Anyar II, yang juga merugikan masyarakat akibat listtrik byarpet.

“Itu urusan pribadi pak. Bukan urusan sebagai kades. Salah kalau anda mengatakan kades Karang Anyar 2, telah mengalikan arus listrik. Seharusnya, PLN yang berbisnis di desa Karang Anyar 2 tidak pernah mendapat bantuan CCR. Berapa pelanggang yang di dapat di desa karang anyar 2, namun merasa di rugikan akibat lampu yang biarpet. PLN itu, BUMN bukan lagi listrik negara seperti dulu. Seharusnya, pemeriksahan di rumah-rumah harus ada surat izin pengeledaan. Ini sudah tuduhan yang salah karena masuk tanpa izin. Listrik yang saya sambung itu, bekas meteran lama,” jelas Ganda Suprihat kepada salah satu awak media.

Ia pun membeberkan keberatan hasil temuan P2TL di kediamannya, dikenakan denda. Dimana sebut ganda, ia dikenakan denda 19 Juta, 11 Juta dan 19 Juta untuk tiga meteran tersebut. Karena dinilainya, denda yang dibuat oleh pihak PLN Arga makmur itu layaknya pemerasan,terlebih lagi adanya ancaman pembongkaran yang di beri waktu hingga hari Senin (31/8) untuk pelunasan dendanya.

“Iya, saya sudah ke PLN Arga Makmur dan dikenakan denda Rp. 49 Juta untuk tiga meteran tersebut. Tentu saya keberatan, itu namanya pemaksaan dan pemerasan. Alasannya itu sudah ketentuan, kalau tidak dibayar akan dibongkar paksa. Jadi diberi waktu Senin saya masih punya hak jawab sampai Senin untuk klarifikasi ada kesalahan dalam mencatat kedua meteran tersebut. Sekali lagi, saya tegaskan ini bukan urusan desa ini urusan pribadi. Jadi tidak ada pidana dalam pengambilan arus PLN atas kesalahan pemindahan kabel tersebut tanpa izin. Kalau anda mengatakan sebagai kepala desa, saya berhak mencabut tiang PLN tanpa izin. Karena, pemerintah desa menilai PLN ini berbisnis di desa tanpa izin,” jelasnya.

Ganda Suprihat juga menceritakan, soal pihak PLN juga melakukan pemeriksaan di kantor desa Karang Anyar 2 Arga Makmur. Disitu, ia dipanggil yang ternyata kabel yang terpasang milik perusahaan TV Kabel yang disambung langsung ke meteran. Dalam kasus ini, ia mengaku diperas diminta uang agar masalah ini selesai.

“Saya sudah duga mereka kemaren periksa meteran di kantor desa. Saya di panggil, ternyata kabel yang dipasang itu punya tv kabel, yang disambung langsung ke meteran. Saya sempat diperas mintak duit. Akhirnya selesai. Yang jelas, kejadian dikediaman pribadi saya itu, unsurnya memindahkan kabel langsung ke meteran, jadi hanya denda bukan mencuri. Sayo dulu pikir PLN itu punya negara. Karena, kepanjangan PLN itu perusahaan listrik negara. Ternyata ini BUMN yang berbisnis samo dengan Telkom. Jadi, mereka terikat pada perusahaan yang berbisnis. Kalau PLN bukan berbisnis, sama semuanya punya negara, artinya aliran listrik gratis seperti arab saudi. Tidak boleh, naiki listrik sebesar saat ini. Di Indonesia kolah listrik termahal,” demikian pesan singkat Ganda Suprihat kepada awak media Bengkulu Utara.

Baca juga :

Diduga Mencuri Arus Listrik, Pemilik Radio Setiawana Tidak Dikenakan Sanksi Pidana

Kades Karang Anyar II Arga Makmur Diduga Maling Arus Listrik

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment