Potret Buram Kemiskinan Di Bengkulu Utara, Suami Istri Dan 4 Orang Anak Tinggal Di Gubuk Reot

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Ironis memang dikatakan, di zaman yang sudah puluhan tahun merdeka ini, kemudian, adanya klaim turunnya angka kemiskinan. Dimana banyak masyarakat sudah memiliki peningkatan ekonomi yang cukup mapan, ditambah lagi derasnya bantuan sosial pemerintah, terhadap masyarakat miskin, namun, tidak pernah dinikmati oleh Mutazarikun, yang hidup serba kekurangan bersama istri dan 4 orang anaknya di gubuk reot, berlantaikan tanah yang nyaris roboh. Pertanyaannya, dimana peran pemerintah melihat kondisi adanya masyarakat, yang masih hidup dibawah garis kemiskinan ini?.

Diketahui, dengan tubuhnya yang sudah tidak muda lagi, ketika menyambut awak media mendatangi kediamannya yang memilukan ini, serta menjawab beberapa pertanyaan, Mutazarikun membeberkan semua kepedihan hidup yang ia alami, tanpa adanya sedikitpun perhatian dari pemerintah.

Kepada awak media, Mutazarikun dengan usianya yang sudah 62 tahun ini, menyebutkan sudah menempati rumah gubuk reotnya ini di wilayah Dusun IX Limas Jaya desa Air Sebayur Kecamatan Pinang Raya Kabupaten Bengkulu Utara, bersama istri dan anaknya bertahun-tahun sejak tahun 2005. Ia pun mengakui, tidak mengetahui sejauh mana perkembangan dunia diluar sana, mengingat keterbatasan informasi yang ia terima. Terlebih lagi, dengan umurnya yang sudah tua seperti saat ini, ia sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masih sangat kesulitan, ditambah lagi dengan kondisinya yang saat ini kerap sakit-sakitan.

“Beginilah, pak kondisi saya dan keluarga, boleh bapak lihat keadaannya, tenaga saya sudah tidak kuat lagi,” ucapnya dengan semangat yang sudah terputus-putus menjawab pertanyaan awak media.

Ironisnya, ketika ditanya bantuan sosial pemerintah, ia pun menjawab belum pernah sekalipun mengetahui, apalagi mendapatkan bantuan pemerintah untuk masyarakat miskin tersebut. Padahal diakuinya, kediamannya ini sudah berulangkali didatangi oleh petugas pendataan, mulai dari desa hingga kecamatan dan kabupaten. Namun, semuanya tidak ada bantuan kunjung datang ke tempatnya.

“Pernah beberapa kali, ada petugas yang mendata orang miskin, namun hingga saat ini sama sekali tidak ada bantuan pemerintah yang mengalir ke kami,” akunya.

Kendati demikian, Mutazarikun tetap bersyukur. Seperti dikatakannya, meskipun tidak ada bantuan sama sekali, ia dan keluarga masih diberikan kesehatan dan dapat menjalani kehidupan sehari-hari meski dengan kekuarangan.

“Kami berharap kepada pemerintah, namun tidak juga mengemis untuk bantuan. Jika diberikan, kami terima dan jika pun tidak, alhamdulillah hingga saat inipun kami masih diberikan kesehatan dan dapat menjalani kehidupan sehari-hari, meski dengan serba kekurangan,” bebernya.

Mengharapkan Bantuan

Sejauh ini, ia pun sempat bertanya kepada awak media, bantuan seperti apa saja yang turun dari pemerintah, untuk masyarakat yang tergolong seperti dirinya. Jika pun ada, ia sangat berterima kasih sekali, jika itu dapat di salurkan kepada keluarganya.

“Kalau memang ada bantuan saya mau, seperti bantuan listrik. Karena kami belum memiliki listrik. Kalau mau pasang sendiri, tidak ada biayanya. Jangankan buat pasang listrik, buat makan saja kami jauh dari cukup. Terlebih lagi, anak-anak kami sendiri untuk mengenyam pendidikan ketingkat yang lebih tinggi, SMP sederajat saja kami tidak sanggup. Hanya satu anak kami, yang berhasil tamat SMP dan satunya lagi hanya tamat SD,” keluhnya.

Mirisnya, hingga berita ini diterbitkan, ketika awak media mencoba mengkonfirmasi kepada Kepala Desa Sebayur, tidak satupun ada nomor ponsel yang aktif. Padahal, Mutazarikun ini layak masuk dalam data BDT, pertanyaannya apakah mereka masuk dalam data BDT 2015?.

Menariknya, arti klaim menurunnya angka kemiskinan di Bengkulu Utara, menjadi syarat dipertanyakan?. Terlebih lagi, bantuan sosial yang katanya tepat sasaran, justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada untuk masyarakat yang berada jauh di pedalaman ini.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment