Kepsek SDN Negeri 033 Bengkulu Utara, Dilaporkan Ke Polda Diduga Lakukan Penzoliman Terhadap Guru

Disebut Pecat Guru Agama Honorer Via Pesan Singkat

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Ironis, profesi guru yang dikenal sebagai umar bakri lantaran memberikan ilmu terhadap penerus bangsa, justru diduga mendapatkan aksi penzoliman dari sesama guru yang memiliki jabatan sebagai Kepala Sekolah. Aksi dugaan penzoliman ini. terjadi di SDN 033 Bengkulu Utara yang berada di Kecamatan Kerkap BU, yang mana puluhan guru dizolimi dari haknya mengajar, yang diduga disunat oleh oknum Kepala Sekolah Berinisial Ha, yang memiliki gelar Sarjana Pendidikan tersebut. Lebih jauh lagi, karena diprotes aksi penzoliman yang dilakukan oleh oknum Kepsek ini, juga menimpa salah satu guru honorer yang mengaku dipecat hanya melalui pesan singkat.

Alhasil, aksi penzoliman ini membuat para guru gerah dan nekat melaporkannya ke pihak Mapolda Bengkulu. Dengan didampingi salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) AIPI yang diketuai oleh Putra Sinaga, sebanyak puluhan guru Selasa kemarin (2/6), mendatangi Polda untuk menyampaikan apa yang terjadi di SDN 033 Bengkulu Utara.

Disampaikan oleh tiga orang guru yang siap berstatemen, yakni Susi, dan Lena ditambah guru honorer yang dipecat melalui pesan singkat bernama Ardi, menyebutkan. Aksi penzoliman yang terjadi di sekolahnya tersebut, diantaranya adanya dugaan penyunatan honor guru mengajar pada jam tambahan untuk pemantapan persiapan ujian, yang disebut telah berlangsung selama 3 tahun lebih. Honor yang dipotong ini, disebutkan sejumlah Rp. 1.080.000 yang hanya diberikan kepada guru yang mendapatkan jam tambahan mengajar selama triwulan sebanyak Rp. 100 Ribu. Dan ini telah dibuktikan oleh para guru, seperti yang tertera pada dokumen Laporan Pertanggungjawaban (LPj) Dana BOS Tahun Anggaran 2019. Selanjutnya, adanya dugaan pemalsuan tanda tangan yang dilakukan oleh oknum Kepsek, demi untuk melakukan aksi penyunatan honor anggaran tersebut.

“Tanda tangan kami dipalsukan pak, ditambah lagi honor yang semestinya kami terima Rp. 1.080.000 untuk satu triwulan, namun yang kami terima hanya sebanyak Rp. 100 Ribu setiap triwulannya. Ini sangat menyesakkan pak, padahal, kami jelas-jelas memberikan pendidikan dan membantu pemerintah untuk kelansungan pendidikan terhadap penerus bangsa di Bengkulu Utara ini, namun mengapa kami diperlakukan seperti ini,” ujar Lena.

Ditambahkan oleh Susi, korban yang mengalami hal ini bukan hanya dirinya dan Lena, tapi juga ada 14 guru lainnya bersama kami yang mengalami hal serupa. Dimana, 14 orang guru dan honorer yang mengajar les tambahan terkesan dikibuli oleh oknum kepsek ini. Jika dilihat dari lamanya jabatan kepsek ini, yang sudha mencapai tiga tahun. tentunya dapat dikalkulasikan, aksi ini sudha berjalan sejak kepemimpinannya.

“Kami sudah menyerahkan bukti-bukti berupa kwitansi pembayaran kepada pihak penyidik Polda Bengkulu. Tidak hanya aksi penzolimannya kepada kami yang kami laporkan, tapi juga dugaan penggelapan uang tabungan siswa yang ditaksir sudha mencapai Ratusan juta rupiah. Dengan laporan kami ini, besar harapan kami dapat segera ditindaklanjuti dan dapat direspon oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, atas apa yang telah kami alami ini,” jelas Susi.

Sementara itu, salah satu guru honorer yang mengajar pelajaran Agama di sekolah tersebut bernama Ardi, S.Ag mencurahkan aksi penzoliman kepseknya kepada dirinya. Dimana, ia dipecat hanya melalui pesan singkat Whatsaap, lantaran ia dicurigai sebagai penghianat. Padahal, terbongkarnya aksi ini bukan karena dirinya, namun karena adanya salah satu guru yang melihat langsung dan mengalami langsung aksi penzoliman tersebut.

“Saya dituding telah melakukan penghianatan, membocorkan aksi penzolimannya. Padahal, saya tidak tahu apa-apa soal itu, tiba-tiba saya mendapatkan pesan singkat dipecat dan tidak diizinkan datang ke sekolah lagi untuk mengajar melalui pesan singkat,” keluhnya.

Disisi lain, Putra Sinaga selaku Ketua LSM AIPI yang mendampingi para guru ini untuk melapor ke Mapolda Bengkulu menyebutkan, aksi oknum Kepsek ini dinilai sudah kelewatan. Bagaimana tidak, dirinya terpanggil untuk membantu mendampingi karena apa yang sejatinya diterima oleh para umar bakri ini tidak sepatutnya diduga disunat seperti itu. Lebih mirisnya lagi, aksi ini sudah berlangsung selama 3 tahun, yang jika dikalkulasikan dana yang diduga sudah disunat oleh oknum Kepsek ini mencapai Rp. 181.400.000.

“Saat ini kita baru menemukan satu kwitansi, bukti pembayaran untuk guru atas nama Lena, S.Pd. Namun, 14 orang guru lain juga ikut mengajar les tambahan dan mereka ikut mendamping melapor. Asumsinya, apabila itu terjadi sejak Kepala Sekolah menjabat yaitu sejak 3 tahun lalu, maka total uang yang diduga digelapkan adalah Rp. 181.400.000. Selain itu, kami juga melaporkan dugaan penggelapan uang tabungan siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 yang jumlahnya diduga mencapai seratus juta dan dugaan pemotongan uang bantuan untuk siswa sebesar Rp. 50.000 per siswa penerima. Sejauh ini, dugaan kami aksi ini tidak hanya dilakukan oleh oknum kepsek, tapi juga adanya keterlibatan bendahara dan juga operator,” singkat Putra Sinaga.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment