RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Paradigma masyarakat khususnya di Kabupaten Bengkulu Utara (BU) yang hanya terfokus pada pengobatan, dimana kurangnya minat masyarakat untuk melakukan pencegahan penyakit, mulai tahun 2018 ini sedikit demi sedikit akan diubah. Dalam hal ini pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten BU mulai menggalakkan program Kementerian Kesehatan yakni Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga (PISPEKA), dengan tujuan untuk menerapkan 12 indikator pencegahan penyakit.
Diketahui, 12 indikator pencegahan penyakit yang dimaksud, yakni masyarakat dituntut agar dapat mulai membiasakan diri untuk dapat melakukan pencegahan serta kontrol penyakit, dimana tahun 2025 ditargetkan kunjungan masyarakat ke Puskesmas dapat berkurang, yang hanya 5 persen saja. Hal ini apabila setelah berjalannya program ini, yang mana petugas kesehatanlah yang bertindak mengunjungi masyarakat untuk melakukan kontrol dan pencegahan penyakit ditengah-tengah masyarakat dengan memberikan pelayanan Preventif dan promotif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten BU dr. Adi Fitridin melalui Kepala Bidang Pelayanan dan Kesehatan (Yankes) Herman Prambudi menuturkan, bahwa program PISPEKA, ditegaskan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan menegakkan 3 pilar utama, diantaranya mengubah paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional- JKN yang menetapkan 12 indikator utama sebagai penanda status kesehatan satu keluarga. PISPEKA ini merupakan prioritas pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 dan sebagai tindak lanjutnya telah terbit Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan PISPEKA.
” Meskipun saat ini Pemkab BU masih kekurangan SDM, program ini akan tetap diusahakan berjalan, demi untuk mewujudkan masyarakat di BU dapat selalu hidup sehat dan mengurangi kunjungan ke tempat pelayanan kesehatan,” ungkap Herman.
Dijelaskan Herman, Ke-12 indikator keluarga sehat tersebut yaitu keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB); Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap, Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan, Penderita tuberculosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar, Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur, Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak diterlantarkan, Anggota keluarga tidak ada yang merokok, Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kemudian, Keluarga mempunyai akses sarana air bersih dan terakhir Keluarga menggunakan jamban sehat.
” Wacana yang telah kita siapkan, program ini dilakukan secara bertahap, dengan target pada akhir tahun 2019, seluruh Puskesmas dapat melaksanakannya. Dimana, setiap petugas kesehatan di Puskesmas setempat diwajibkan melakukan kunjungan door to door ke masyarakat. Pendekatan keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan serta meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Sehingga Puskesmas dapat mengintegrasikan upaya kesehatan perorangan dengan upaya kesehatan masyarakat dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya. Dengan mengunjungi keluarga di rumahnya, petugas Puskesmas akan dapat mengenali masalah-masalah kesehatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang dihadapi keluarga secara lebih menyeluruh,” jelasnya.
Diakui Herman, untuk mewujudkan program ini memang sangat berat, terlebih dengan kondisi geografis dan keadaan masyarakat di BU ini berbeda-beda. Oleh karena itu, Tahun ini pihaknya mulai serius menggarap program ini dengan harapan tahun berikutnya dapat berjalan.
Laporan : Effendi

