PSB, Satgas Saber Pungli Sorot Dugaan Pungli

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Libur lebaran telah berlalu, dalam waktu dekat bagi pelajar SD, SMP hingga SMA memasuki masa liburan panjang. Selain itu, seluruh sekolah akan melakukan giat Penerimaaan Siswa Baru (PSB). Mencegah adanya indikasi dugaan Pungutan Liar (Pungli), Satgas Saber Pungli Kabupaten Bengkulu Utara, akan menyorot penuh giat PSB ini. Hal ini di benarkan oleh Wakil Ketua I Satgas Saber Pungli BU Inspektur Inspektorat BU Dullah, SE.

“Iya penerimaan siswa baru kali ini, kami memastikan agar tidak terjadi pungli. Untuk itu, kami pun akan mengawasi penuh, dan akan sigap menindaklanjuti laporan masyarakat jika terjadi pungli pada giat ini,” ujarnya.

Ia pun menghimbau, agar seluruh sekolah tidak melakukan pungutan yang dapat memberatkan para orang tua, untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah. Jika masih nekat melakukan pungutan, pihaknya tidka akan segan segan menindaklanjuti masalah ini. Pasalnya, ini sudah sesuai dengan regulasi aturan Permendkbud Nomor 75 Tahun 2015 tentang komite sekolah, dan Permendikbud Nomor 44 Tahun 2012, tentang pungutan dan sumbangan biaya pendidikan pada satuan pendidikan dasar.

Pungli PSB, Ini Kata Irjen Kemendikbud Daryanto

Sementara itu, dilansir dari media online Detiknews.com, juga dipertegas. Bahwa, Komite Sekolah dilarang melakukan pungutan terhadap murid dan wali murid, namun boleh menerima sumbangan sukarela. Bila murid dan wali murid masih dipungut juga, silakan dilaporkan.

“Bisa lewat kemendikbud.go.id melalui portalnya Irjen, bisa juga melalui Lapor! yang ada di Kantor Kepresidenan, bisa juga lewat Ombudsman. Nah, nanti sebentar lagi kita ada MoU dengan Ombudsman terkait dengan pemantauan layanan pendidikan, salah satunya itu (soal Komite Sekolah),” jawab Irjen Kemendikbud Daryanto.

Hal itu dia sampaikan seusai jumpa pers tentang Komite Sekolah di Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (16/1/2017). Berikut saluran Kemendikbud bila Anda mendapati Komite Sekolah melakukan pungutan:

1. Unit Layanan Terpadu
SMS: 0811 976929; Telepon: (021) 5703303, 57903020; email: pengaduan@kemdikbud.go.id; https://ultkemdikbud.go.id
2. Posko Pengaduan Itjen. Kemendikbud
SMS: 0811 9958 020; posel: pengaduan.itjen@kemdikbud.go.id
3. LAPOR! 1708; https://lapor.go.id
4. Saber Pungli 193 dan 821 1213 1323; SMS: 1193; posel: lapor@saberpungli.id
5. Kanal Informasi Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota
6. Kanal Informasi OMBUDSMAN Daerah

Saat ditanya apakah sudah ada yang melaporkan Komite Sekolah melakukan pungutan pada murid, Daryanto menengarai ada beberapa laporan yang sudah diterima. Pihaknya akan menelusuri laporan itu.

“Beberapa sudah kita tengarai, biasanya ini pendekatan dari Irjen Kemendikbud ya. Begitu ada yang muncul, langsung kami lihat di lapangan. Kemudian kami langsung tracking begitu. Kalau kami bisa cek, kami bisa ceklah supaya nanti tidak kebablasan,” jelasnya.

Namun bila aksinya keterlaluan, pihaknya tak segan melaporkan ke aparat penegak hukum.

“Tapi kalo ekstrem, saya tidak main-main, kami laporkan kepada aparat penegak hukum, apalagi sekarang sudah ada Satgas Saber Pungli. Saya sampaikan langsung dengan Pak Wiranto kemarin kalau ada seperti ini (pungutan liar) kemudian saya juga ke Irwasum (Irwasum Polri), beliau juga respons positif untuk membantu, jadi percepatan itu menjadi penting,” tegasnya.

Dengan adanya Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, lanjut Daryanto, batasan-batasan penggalangan dana menjadi jelas. Wali murid tak bisa dipungut oleh Komite Sekolah. Yang berhak melakukan pungutan pendidikan pada murid adalah pihak sekolah, bukan Komite Sekolah.

“Ya Peraturan Mendikbud Nomor 75 tahun 2016 untuk menegaskan itu. Supaya mengendalikannya itu mudah. Sekarang kan kita bisa tahu pasal demi pasal. Kan kelihatan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang didorong, apa yang dihentikanlah, kira-kira seperti itu,” paparnya.

Semua dana yang diperoleh Komite Sekolah, paparnya, akan dipertanggungjawabkan secara transparan.

“Nah, untuk melakukan audit itu, syaratnya ada dua. Satu, dia punya kriterianya, aturannya. Kedua, dia lihat faktanya. Nah kalau kita dua-duanya bisa membandingkan nanti baru ketemu, ini benang merahnya ada di mana. Kalau ada penyimpangan, kita sebut temuan, nah itu harus ditindaklanjuti. Jadi Permendikbud bersyukur untuk sisi pengendaliannya sekaligus memudahkan dari sisi pelaksanaannya,” jelasnya.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment