Jengkel Dengan Pelayanan, Warga Desa Tebing Kaning Tahan Ambulan Jenazah RSUD M Yunus Bengkulu

Jenazah Calon Pengantin Baru Terkonfirmasi, Dimakamkan Masyarakat Tanpa Prosedure Penanganan Covid 19

RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Kamis (15/10) warga desa Tebing Kening Kecamatan Arma Jaya Bengkulu Utara, mendadak melakukan penahanan terhadap salah satu kendaraan ambulance jenazah milik RSUD M Yunus Bengkulu. Pasalnya, warga menilai pelayanan pihak RSUD M Yunus dinilai sangat buruk dan merugikan masyarakat desa. Lantaran, pasien yang meninggal dunia di RSUD M Yunus yang dinyatakan covid 19, ketika dikembalikan ke rumah duka untuk pemakaman protokol kesehatan, tidak di sertai dengan petugas yang sudah dilengkapi dengan alat pengaman. Alhasil, masyarakat pun melakukan aksi nekat memakamkan pasien tersebut, secara pemakaman umum, tanpa mengindahkan prosedure covid 19.

Kejadian ini diperparah lagi dengan, tidak adanya koordinasi pihak RSUD MN Yunus atau Dinas Kesehatan provinsi Bengkulu kepada pihak terkait di Kabupaten Bengkulu Utara. Yakni, Satgas Covid 19 maupun pihak Dinas Kesehatan BU. Akibatnya, masyarakat yang mengikuti pemakamam pasien tersebut terpaksa dilakukan tes swab seluruhnya, yang mengakibatkan terkurasnya anggaran, yang akan di keluarkan melalui APBD Pemkab Bengkulu Utara.

Membenarkan hal ini, Jufri selaku Kabag Ops Polres BU yang memimpin mediasi di Mapolres BU antara masyarakat, yang melakukan penahanan kendaraan ambulance jenazah beserta supirnya, mengungkapkan. Bahwa kejadian ini, merupakan miss komunikasi yang akan menjadi bahan evaluasi seluruh pihak, terkait untuk penanganan covid 19. Kejadian ini diakuinya jelas sangat memalukan, terutama di dunia kesehatan yang tidak melakukan komunikasi intens. Alhasil, terjadilah kejadian ini yang mana masyarakat jelas dalam hal ini dirugikan.

“Kami telah melakukan mediasi, dan masyarakat pun telah menerima yang hasilnya adanya permintaan maaf dari pengemudi ambulance dan adanya komunikasi pihak satgas Kabupaten ke pihak RSUD M Yunus, yang sudah didengar langsung oleh masyarakat. Hasil dari mediasi ini, pengemudi ambulance diperbolehkan pulang kembali ke Bengkulu, dan masyarakat yang mengikuti pemakaman yang kontak langsung dengan jenazah, akan dilakukan uji swab oleh pihak Satgas penanganan covid 19 Bengkulu Utara,” ujar Jufri.

Jupri : Tindakan Masyarakat Dapat Dimaklum

Jufri pun tidak menampik aksi penahanan kendaraan dinas milik RSUD M Yunus ini, lantaran kejengkelan masyarakat atas pelayanan yang dinilai sangat buruk dari pihak RSUD. Dimana, jenazah yang sudah dinyatakan covid 19 oleh pihak RS, tidak di sertai dengan pelayanan petugas kesehatan, yang sudah lengkap dengan APD pengamanan untuk dilakukan pemakaman prosedure covid 19. Hal inilah, yang membuat masyarakat geram dan melakukan penahanan kendaraan ambulance dan menggiringnya ke Mapolres BU.

“Aksi masyarakat ini kami nilai wajar dan dapat dimaklumi, dan alhamdulillah mediasi sudah dilaksanakan masalah sudah clear,” jelasnya.

Sementara itu, ketika awak media mencoba mempertanyakan kepada pengemudi ambulance, terkait kejadian ini yang dinilai masyarakat buruknya pelayanan RSUD M Yunus Bengkulu, Mulyadi pengemudi ambulance mengaku dirinya hanya dimandatkan sebagai pengemudi untuk mengantarkan jenazah, yang terkonfirmasi covid 19. Mengenai seperti apa petugas yang akan melakukan pemakaman, ia tidak mengetahuinya. Selain itu, ia pun mengemukakan yang menjadi kebiasaan ketika dirinya mengantarkan jenazah terkonfirmasi covid 19 di kabupaten itu prosedure pemakamannya ditanggulangi oleh petugas kesehatan di Kabupaten. Namun dengan kejadian saat ini, ia sendiri juga mengaku terkejut, karena ketika dirinya tiba dirumah duka tidak ada petugas kesehatan, yang sudah dilengkapi dengan APD pengaman. Ia pun mengaku bingung.

“Saya juga bingung pak, ketika tiba dirumah duka, justru tidak mendapati satupun petugas kesehatan setempat, yang sudah dilengkapi APD. Mengingat, pasien yang saya bawa ini terkonfirmasi covid 19, dan sudah dilakukan penanganan prosedure covid 19 atas jenazahnya oleh pihak RSUD. Namun penanganan pemakaman, justru tidak ada petugas. Saya sempat bertanya ke Kades setempat, namun kades menjawab masyarakat yang menjadi petugas. Lalu, bagaimana dengan ini saya tidak tahu. Karena, saya hanya mendapatkan mandat membawa jenazah ke rumah duka, mengenai koordinasi atau komunikasi lainnya, itu diluar kewenangan saya pak,” ungkap Mulyadi.

Tindakan RSUD M Yunus Disesalkan Tidak Koordinasi

Disisi lain, salah satu perwakilan Dinas Kesehatan BU yang hadir pada mediasi, Ujang ketika dikonfirmasi awak media. Pihaknya mengaku sudah melakukan klarifikasi dengan pihak RSUD M Yunus, dan hasilnya ini merupakan miss komunikasi antara pihak M Yunus dengan pihak Kabupaten. Dimana, pasien ini pada awalnya didiagnosa Profable kesehatan, namun ketika di swab terakhir menggunakan TCM dinyatakan positif Covid 19. Kemudian, pihaknya juga sempat mempertanyakan soal pelayanan M Yunus terhadap pasien ini. Pihak RSUD M Yunus pun menjelaskan kepada keluarganya, bahwa penanganan jenazah ini pihak RSUD M Yunus hanya menyanggupi pemulanganan jenazahnya saja. Sementara, penanganan pemakaman itu ditangani Satgas Kabupaten BU. Celakanya, pihak RSUD M Yunus mengakui terlambat menghubungi atau berkoordinasi dengan pihak Satgas Kabupaten Bengkulu Utara. Yang menghasilkan kejadian ini.

“Karena nasi sudah jadi bubur, kita tidak akan membongkar makam dan kita anggap selesai. Saat ini yang kita fikirkan, akan melakukan tes swab terhadap keluarga jenazah dan masyarakat yang kontak dengan jenazah. Yang jelas, kita berfikir yang baik aja kedepan, dan kami juga sudah menegur pihak RSUD M Yunus, agar kejadian serupa tidak kembali terulang, karena ini sangat fatal akibatnya,” kata Ujang.

Kesal Dengan Ulah Pihak RSUD M Yunus Bengkulu, Warga Nekat Tantang Corona

Menanggapi kejadian ini, awak media pun meminta penjelasan pihak desa seperti apa kronologis kejadian ini. Alhasil, Kades Tebing Kaning Hamdani pun menjelaskan, bahwa kejadian ini hanya salah faham. Kejadian ini berawal pada pukul 3.30 WIB dinyatakan meninggal dunia di RSUD M Yunus, yang awalnya jenazah ini sempat di rawat di RS Charitas Arga Makmur, dan dirujuk ke RSUD Arga Makmur sehingga dilarikan ke RS M Yunus Bengkulu. Sebelumnya, jenazah ini sebelum masuk ke RS M Yunus dan sebelum meninggal dinyatakan negative Covid 19. Namun anehnya, ketika jenazah meninggal justru dinyatakan positif terkonfirmasi covid 19. Kemudian, masyarakat pun sempat dilarang menyentuh jenazah, ketika jenazah tiba di rumah duka dengan penyampaian, bahwa pasien positif covid 19. Namun, karena jenazah terus dibiarkan, akhirnya masyarakat pun mengambil sikap dan mengangkat sendiri jenazah ini, dan mengucapkan menantang corona karena kesal tidak adanya petugas kesehatan, yang ada jika ingin di lakukan ritual pemakaman secara covid 19.

“Masyarakat sangat kecewa dengan pernyataan RSUD M Yunus, karena jenazah ini dinilai bukan terjangkit corona. Melainkan karena pasien ini memang sudah memiliki riwayat penyakit komplikasi. Sehingga, apa yang dinyatakan pihak RS ini membuat masyarakat kesal. Hal ini juga, diperparah dengan tidak adanya pelayanan RSUD M Yunus terhadap jenazah ini, jika memang dinyatakan positif kenapa tidak adanya petugas, yang mendampingi jenazah ini untuk dimakamkan dengan prosedure covid 19. Akibat dari ulah pihak RS M Yunus ini, masyarakat pun melakukan aksi penahanan kendaraan ini, guna meminta kejelasan dengan ulah pihak RS M Yunus, yang dinilai sangat merugikan masyarakat ini,” singkat Kades.

Lebih jauh Kades menyesalkan, tindakan pihak RS M Yunus. Dimana pihak keluarga menyebutkan ke dirinya, bahwa pihak RS M Yunus berkata kepada pihak keluarga bahwa seluruh penanganan jenazah akan di lakukan oleh pihak RS M Yunus, namun kenyataannya hal tersebut tidak ada. Yang sampai di rumah duka hanya pengemudi ambulance saja.

“Harapan kami, kedepan ini tidak terjadi lagi. Terlebih lagi kurangnya kordinasi, ini jelas sangat merugikan masyarakat dan berdampak sangat buruk bagi masyarakat,” imbuhnya.

Untuk diketahui, kendaraan ambulance jenazah RSUD M Yunus Bengkulu berangkat dari RSUD M Yunus menuju rumah duka di desa Tebing Kaning Kecamatan Arma Jaya BU, pada pukul 10. 00 WIB dan tiba di rumah duka pada pukul 12.00 WIB. Dimana, jenazah tiba dilokasi sempat tidak tersentuh selama 30 menit yang akhirnya masyarakat setempat berinisiatif menyentuhnya lantaran kasihan terkesan di abaikan. Yang mana, jenazah yang sudah dibungkus layaknya prosedure covid 19, dibuka masyarakat dan dimakamkan layaknya pemakaman umum.

Laporan : Redaksi

Related posts

Leave a Comment